Sumatera Selatan tidak hanya dikenal dengan kekayaan kulinernya, tetapi juga memiliki khazanah budaya berupa Gitar Tunggal Batanghari Sembilan yang memukau. Kesenian ini merupakan identitas musik yang tumbuh di lingkungan masyarakat agraris di sepanjang sembilan anak sungai besar di Sumatera Selatan. Sebagai salah satu peninggalan klasik, instrumen ini bukan sekadar alat musik biasa, melainkan media tutur yang menyampaikan pesan moral, kegelisahan sosial, hingga ungkapan perasaan sang pemain melalui petikan senar yang khas.
Menjelajahi keindahan Gitar Tunggal Batanghari Sembilan berarti masuk ke dalam kedalaman lirik yang biasanya berbentuk pantun atau syair. Keunikan utama dari tradisi ini terletak pada teknik permainannya yang dilakukan secara solo atau tunggal. Sang pemain gitar tidak hanya dituntut mahir memetik instrumen, tetapi juga harus pandai bersyair secara spontan. Harmonisasi antara vokal yang sedikit serak dan petikan gitar yang repetitif menciptakan suasana melankolis yang sangat menyentuh hati pendengarnya.
Dalam sejarahnya, Gitar Tunggal Batanghari Sembilan sering dimainkan oleh para petani di pematang sawah atau di teras rumah panggung sebagai hiburan setelah seharian bekerja. Musik ini menjadi teman dalam kesunyian dan jembatan komunikasi antarwarga. Seiring berjalannya waktu, nilai-nilai yang terkandung dalam setiap syairnya tetap relevan hingga saat ini, mencerminkan kearifan lokal yang sangat kuat dalam menjaga hubungan antara manusia, alam, dan pencipta.
Upaya pelestarian Gitar Tunggal Batanghari Sembilan terus dilakukan agar tidak tergerus oleh zaman. Meskipun saat ini alat musik modern mendominasi industri hiburan, eksistensi kesenian tradisional ini tetap memiliki tempat di hati masyarakat Sumatera Selatan. Penggunaan instrumen ini dalam berbagai festival budaya dan acara adat menjadi bukti bahwa nilai estetikanya tidak pernah pudar. Masyarakat setempat percaya bahwa selama aliran sungai Batanghari Sembilan masih mengalir, maka alunan gitar ini akan terus berdendang.
Karakteristik Gitar Tunggal Batanghari Sembilan yang menonjol adalah penggunaan tangga nada yang unik, yang berbeda dengan standar musik Barat pada umumnya. Hal inilah yang membuatnya terdengar sangat organik dan autentik. Dengan mempromosikan kembali kesenian ini ke tingkat nasional maupun internasional, kita tidak hanya menjaga sebuah alat musik, tetapi juga merawat memori kolektif bangsa yang sangat berharga. Mari kita terus apresiasi setiap petikan dari warisan luhur Bumi Sriwijaya ini agar tetap abadi sepanjang masa.
