Budaya

Kain Songket Sumsel Awet Hingga Puluhan Tahun

Menjaga warisan budaya dalam bentuk fisik memerlukan ketelatenan luar biasa, terutama pada keindahan songket yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumatra Selatan. Di paragraf awal ini, penting untuk memahami bahwa songket bukan sekadar kain biasa, melainkan lembaran sejarah yang ditenun dengan benang emas dan perak berkualitas tinggi. Agar kilau dan kekuatan serat songket tetap terjaga hingga puluhan tahun, diperlukan teknik perawatan khusus yang diwariskan secara turun-temurun oleh para kolektor dan perajin lokal yang memahami karakteristik kain mewah ini secara mendalam.

Kualitas bahan dasar merupakan fondasi utama dari ketahanan kain ini. Benang sutra alam yang dipadukan dengan benang emas asli (“jantung”) membuat kain ini memiliki berat dan tekstur yang khas. Namun, musuh terbesar dari kain tradisional ini adalah kelembapan dan paparan sinar matahari langsung. Jika disimpan di tempat yang lembap, benang emas pada kain bisa mengalami oksidasi yang menyebabkan warnanya memudar atau menghitam. Oleh karena itu, para ahli tekstil menyarankan agar kain disimpan dalam posisi digulung menggunakan pipa paralon yang dilapisi kain putih bersih, bukan dilipat, untuk menghindari patahan pada serat benang yang kaku.

Selain cara penyimpanan, proses pembersihan juga menjadi kunci krusial. Kain ini sangat anti dengan penggunaan deterjen kimia yang keras. Membersihkan noda pada songket sebaiknya dilakukan dengan teknik dry cleaning khusus atau cukup diangin-anginkan di tempat teduh yang tidak terkena matahari secara langsung. Penggunaan akar wangi atau lada dalam wadah kecil di sekitar tempat penyimpanan juga sangat efektif untuk mengusir ngengat tanpa merusak aroma alami kain. Cara tradisional ini terbukti jauh lebih aman dibandingkan menggunakan kamper kimia yang aromanya bisa meresap dan merusak struktur serat sutra.

Nilai investasi dari selembar kain ini akan terus meningkat seiring bertambahnya usia, asalkan kondisinya tetap prima. Sebuah songket kuno yang terawat dengan baik seringkali dihargai jauh lebih tinggi daripada kain baru karena nilai historis dan kerumitan motifnya yang mungkin sudah jarang diproduksi lagi. Dengan dedikasi dalam merawat setiap helai benangnya, Anda tidak hanya menyimpan sepotong pakaian, tetapi juga menjaga identitas bangsa agar tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang dalam kondisi yang masih memukau.

Posted by admin in Berita, Budaya

Inovasi Kuliner Palembang Pempek ‘Plant-Based’ Mulai Diminati

Memasuki tahun 2026, wajah kuliner di Sumatera Selatan mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Palembang, yang selama ini dikenal sebagai surga bagi para pecinta olahan ikan, kini mulai membuka diri terhadap tren global yang mengedepankan keberlanjutan. Salah satu fenomena yang paling menarik perhatian adalah munculnya Pempek Plant-Based sebagai alternatif bagi masyarakat yang sedang menjalankan gaya hidup sehat. Meskipun pada awalnya ide mengganti bahan baku ikan dengan protein nabati sempat menuai perdebatan, nyatanya inovasi ini justru mendapatkan tempat di hati para pelaku diet vegetarian maupun mereka yang memiliki alergi terhadap hidangan laut.

Pergeseran ini tidak lepas dari meningkatnya kesadaran akan dampak lingkungan dari industri perikanan skala besar. Dengan menggunakan bahan dasar seperti jamur, rumput laut, atau protein kedelai yang diolah sedemikian rupa, tekstur kenyal khas yang menjadi identitas utama Pempek Plant-Based tetap dapat dipertahankan. Para koki lokal di Palembang kini berlomba-lomba meracik bumbu yang mampu menghasilkan aroma “gurih laut” tanpa harus menyentuh produk hewani sedikit pun. Hal ini membuktikan bahwa tradisi kuliner bisa berjalan beriringan dengan modernitas dan kepedulian terhadap ekosistem.

Dari sisi ekonomi, kehadiran varian ini juga membuka peluang pasar baru bagi pelaku UMKM. Pempek Plant-Based tidak hanya menyasar pasar lokal, tetapi juga memiliki potensi ekspor yang besar ke negara-negara yang sudah lebih dulu akrab dengan menu vegan. Dengan teknik pengemasan frozen food yang semakin canggih, hidangan inovatif ini bisa dikirim ke berbagai penjuru dunia tanpa mengurangi kualitas rasanya. Konsumen kini memiliki pilihan yang lebih luas untuk menikmati kudapan favorit mereka tanpa merasa bersalah terhadap kesehatan jantung atau kadar kolesterol yang tinggi.

Penerimaan masyarakat terhadap Pempek Plant-Based di tahun 2026 ini juga didukung oleh keberadaan cuko yang tetap autentik. Kekuatan utama dari hidangan ini memang terletak pada kuah hitamnya yang pedas, asam, dan manis. Ketika dipadukan dengan pempek nabati yang mampu menyerap kuah dengan baik, sensasi makan yang dirasakan hampir tidak ada bedanya dengan versi original. Hal ini membuat transisi rasa menjadi lebih halus dan mudah diterima oleh lidah masyarakat Palembang yang dikenal sangat kritis terhadap kualitas rasa makanan tradisional mereka.

Posted by admin in Budaya, Kuliner, News

Candei: Harmoni Folk Melayu yang Mengalun Indah dari Bumi Muara Enim

Muara Enim, Sumatera Selatan, dikenal kaya akan tradisi dan budaya, salah satunya adalah Candei. Lebih dari sekadar musik tradisional, Candei adalah representasi harmoni folk Melayu yang memukau dan terus dilestarikan oleh masyarakat setempat. Alunan melodinya yang khas, dipadukan dengan lirik-lirik sarat makna, membawa pendengarnya dalam perjalanan spiritual dan emosional, menghadirkan kedamaian dan refleksi mendalam.

Sejarah dan Makna Budaya Candei Konon, sejarah Candei berakar dari tradisi lisan masyarakat Melayu di sepanjang Sungai Lematang. Dahulu, Candei seringkali dimainkan dalam berbagai upacara adat, seperti pernikahan, khitanan, dan panen raya. Fungsinya tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai-nilai luhur, nasihat, dan sejarah secara turun-temurun. Irama musik Candei yang syahdu dipercaya mampu menciptakan suasana khidmat dan mempererat tali persaudaraan antar warga, menjadi perekat sosial yang kuat.

Keunikan Instrumen dan Melodi Candei Salah satu daya tarik utama Candei terletak pada penggunaan alat musik tradisional yang unik. Biola, gendang, dan gong menjadi instrumen utama yang menghasilkan perpaduan suara yang khas. Melodi yang dihasilkan cenderung mendayu-dayu, mencerminkan kelembutan dan keindahan alam Sumatera Selatan. Lirik-lirik lagu Candei seringkali menggunakan bahasa Melayu lokal dengan gaya pantun, menambah kekayaan artistik dan menyampaikan pesan secara implisit namun mendalam, mengandung kearifan lokal yang berharga.

Pelestarian Candei di Era Modern Di tengah arus modernisasi, upaya pelestarian Candei terus dilakukan oleh berbagai pihak. Kelompok-kelompok seni tradisional, sanggar budaya, dan pemerintah daerah Muara Enim aktif mengadakan pertunjukan, festival, dan workshop untuk memperkenalkan Candei kepada generasi muda. Langkah ini penting agar warisan budaya yang tak ternilai harganya ini tetap hidup dan terus mengalun indah, menjadi identitas kebanggaan masyarakat Muara Enim dan kekayaan musik Indonesia. Dengan terus melestarikan Candei, kita turut menjaga harmoni folk Melayu yang telah berakar kuat di bumi Sumatera Selatan, sebagai bagian tak terpisahkan dari jati diri bangsa.

Semoga artikel ini dapat memberikan informasi dan manfaat untuk para pembaca tentang kejadian di sekitar Sumatera, terimakasih !

Posted by admin in Berita, Budaya