Fenomena pergeseran budaya di wilayah Sumatera Selatan kini tengah menjadi sorotan tajam, terutama mengenai alasan mengapa banyak Gen Z Sumsel yang mulai merasa enggan menggunakan identitas lokal mereka dalam percakapan sehari-hari. Bahasa daerah yang seharusnya menjadi kebanggaan dan ciri khas wilayah, perlahan mulai ditinggalkan oleh generasi muda yang lebih memilih gaya bicara populer demi dianggap lebih modern. Sapaan akrab seperti “Lur” yang melambangkan persaudaraan kini semakin jarang terdengar di pusat-pusat keramaian kota, tergantikan oleh istilah-istilah gaul yang dianggap lebih relevan dengan tren digital saat ini.
Penyebab utama dari munculnya rasa canggung pada Gen Z Sumsel seringkali berakar dari tekanan sosial di media sosial dan lingkungan pergaulan yang semakin global. Ada persepsi keliru yang menganggap bahwa menggunakan dialek lokal atau logat kental menunjukkan status sosial yang rendah atau kurang teredukasi. Padahal, kekayaan bahasa daerah adalah aset budaya yang sangat berharga dan menjadi pembeda yang unik di tengah keberagaman suku di Indonesia. Tanpa rasa bangga terhadap akar budaya sendiri, identitas kedaerahan terancam hilang ditelan arus modernisasi yang seragam.
Selain faktor eksternal, kurangnya penggunaan bahasa ibu di lingkungan keluarga juga mempercepat pudarnya kemampuan berbahasa daerah pada Gen Z Sumsel. Jika orang tua tidak lagi membiasakan anak-anak mereka berkomunikasi dengan bahasa asal di rumah, maka wajar jika generasi penerus kehilangan kosa kata aslinya. Dibutuhkan upaya kreatif dari para pembuat konten dan tokoh masyarakat untuk mengemas kembali bahasa daerah agar terlihat keren dan tetap relevan bagi anak muda tanpa menghilangkan esensi tradisinya yang luhur.
Kesadaran kolektif sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa kemajuan zaman tidak menghapus warisan lisan kita. Menjadi modern bukan berarti harus meninggalkan jati diri sepenuhnya. Justru di tengah dunia yang semakin tanpa batas, keunikan karakter seorang Gen Z Sumsel bisa menjadi nilai tambah yang membedakan mereka dengan individu lainnya. Mari kita buktikan bahwa mencintai bahasa daerah adalah bentuk nyata dari menjaga martabat bangsa dan melestarikan sejarah yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.
