Bulan: Februari 2026

Mie Celor Keju Viral di Palembang: Perpaduan Unik Tradisi dan Modern

Palembang selalu punya cara tersendiri untuk memanjakan lidah para pecinta kuliner, salah satunya melalui inovasi Mie Celor Keju yang kini tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Hidangan legendaris yang identik dengan kuah kental kaldu udang dan santan ini kini bertransformasi menjadi sajian yang lebih modern dengan sentuhan krim keju yang gurih. Fenomena ini bukan sekedar tren sesaat, melainkan bukti bagaimana kuliner lokal mampu beradaptasi dengan selera generasi muda tanpa menghilangkan akar budayanya.

Secara tradisional, kekuatan mie celor terletak pada tekstur mienya yang besar dan padat, disiram dengan kuah rempah yang kaya akan sari laut. Namun, dalam varian Mie Celor Keju ini, para koki lokal mencoba memberikan dimensi rasa baru. Penambahan keju cheddar atau mozzarella yang meleleh di atas kuah panas memberikan tekstur creamy yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Banyak pengunjung yang awalnya terkejut justru terkejut dengan keharmonisan rasa yang tercipta, di mana rasa asin keju mampu menyeimbangkan aroma kuat dari udang satang.

Kepopuleran hidangan ini tentu didorong oleh kekuatan visual yang sangat “Instagrammable”. Tarikan keju yang molor di atas mie kuning yang hangat menjadi daya tarik utama bagi para kreator konten untuk membagikan pengalaman makan mereka. Di beberapa kedai populer di kawasan seberang ulu, antrean pengunjung terlihat membludak hanya untuk testimoni Mie Celor Keju yang unik ini. Para pedagang mengakui bahwa penggunaan bahan-bahan berkualitas tetap menjadi prioritas agar cita rasa asli Palembang tidak tenggelam oleh inovasi modern tersebut.

Selain soal rasa, keberadaan varian baru ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi UMKM di Palembang. Banyak warung kecil yang mulai berani bereksperimen dengan menu-menu baru demi menarik perhatian pelanggan dari luar kota. Mie Celor Keju menjadi simbol bahwa kreativitas dalam dunia kuliner tidak memiliki batas. Bagi Anda yang sedang berkunjung ke Bumi Sriwijaya, mencoba menu ini adalah kewajiban untuk merasakan bagaimana tradisi bersentuhan dengan modernitas dalam satu mangkuk yang hangat.

Posted by admin in Berita

Tradisi Teater Ulu Palembang Kembali Viral di Ramadan 2026

Memasuki bulan suci Ramadan tahun 2026, masyarakat Sumatera Selatan kembali disuguhi dengan fenomena budaya yang memikat, di mana kehadiran Teater Ulu kini menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Kesenian rakyat yang sempat meredup ini seolah mendapatkan napas baru seiring dengan semangat generasi muda untuk melestarikan warisan leluhur. Di tengah gempuran modernitas dan konten digital yang serba cepat, penampilan drama tradisional yang sarat akan nilai moral dan kearifan lokal ini justru berhasil mencuri perhatian jutaan pasang mata, menjadikannya salah satu agenda wajib bagi warga Palembang saat menunggu waktu berbuka puasa.

Kebangkitan Teater Ulu tidak terjadi begitu saja tanpa upaya yang terstruktur. Pemerintah kota bersama para pegiat seni lokal telah melakukan modifikasi pada sisi teknis pertunjukan tanpa menghilangkan esensi aslinya. Jika dahulu pementasan ini hanya dilakukan di pelataran rumah limas atau balai desa, kini sentuhan tata cahaya modern dan sistem suara yang mumpuni membuat pertunjukan ini terasa lebih megah.

Viralnya Teater Ulu di tahun 2026 juga didorong oleh tren “Ramadan Aesthetic” di mana para pengunjung berlomba-lomba mengabadikan momen pertunjukan dengan latar belakang arsitektur khas tepi Sungai Musi. Hal ini secara tidak langsung meningkatkan daya tarik wisata budaya di Sumatera Selatan. Banyak wisatawan mancanegara yang sengaja datang untuk menyaksikan bagaimana seni peran tradisional ini mampu beradaptasi dengan zaman. Mereka tidak hanya menonton, tetapi juga terlibat dalam diskusi singkat setelah pementasan berakhir, yang memberikan pemahaman lebih dalam mengenai filosofi di balik setiap gerakan dan ucapan para pemeran.

Selain sebagai sarana hiburan, Teater Ulu memegang peran penting dalam menjaga kerukunan sosial di tengah masyarakat. Setiap pementasan biasanya melibatkan berbagai lapisan warga, mulai dari anak-anak hingga orang tua, baik sebagai pemain maupun kru di balik layar. Gotong royong ini menciptakan suasana kekeluargaan yang sangat kental, terutama di bulan Ramadan yang penuh berkah. Keberhasilan seni ini untuk kembali populer membuktikan bahwa tradisi lama tidak akan hilang ditelan waktu selama ada kreativitas yang terus mengalir dan dukungan penuh dari masyarakat lokal untuk menjaga identitas mereka.

Posted by admin in Berita

Rahasia Tari Gending Sriwijaya Menjadi Simbol Sakral Kerajaan Palembang

Sumatera Selatan menyimpan kekayaan intelektual dan seni yang luar biasa, salah satunya tercermin melalui eksistensi Tari Gending Sriwijaya yang hingga kini masih dianggap sebagai warisan paling berharga. Sebagai tarian yang berasal dari masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, setiap gerakannya bukan sekadar estetika belaka, melainkan sebuah pesan mendalam mengenai keramah-tamahan, kejayaan, dan penghormatan terhadap tamu agung. Dalam konteks sejarah Palembang, tarian ini menempati posisi yang sangat istimewa karena menjadi simbol jembatan antara masa lalu yang megah dengan identitas masyarakat modern saat ini.

Memahami makna di balik tarian ini memerlukan ketelitian dalam melihat setiap detail kostum dan perlengkapan yang digunakan. Para penari biasanya menggunakan pakaian adat Aesan Gede yang melambangkan kebesaran raja-raja zaman dahulu. Penggunaan tepak sirih dalam Tari Gending Sriwijaya menjadi elemen kunci yang paling sakral. Tepak sirih ini melambangkan penyambutan yang tulus dan rasa hormat yang tinggi. Secara filosofis, gerakan gemulai para penari mencerminkan karakter masyarakat Palembang yang terbuka namun tetap memegang teguh nilai-nilai kesantunan serta tradisi leluhur yang luhur.

Sejarah mencatat bahwa tarian ini sempat mengalami berbagai dinamika zaman. Namun, esensi dari Tari Gending Sriwijaya tetap terjaga sebagai identitas pemersatu bangsa, khususnya bagi masyarakat di wilayah Sumatera bagian selatan. Keunikan musik pengiringnya yang megah mampu membawa penonton seolah kembali ke masa abad ke-7, di mana pengaruh Sriwijaya membentang luas hingga ke mancanegara. Hal inilah yang membuat tarian tersebut tidak hanya sekadar pertunjukan panggung, melainkan sebuah ritual budaya yang menyentuh sisi spiritual dan nasionalisme.

Penting bagi generasi muda untuk terus melestarikan Tari Gending Sriwijaya agar tidak tergerus oleh arus globalisasi. Dengan menjadikannya sebagai bagian dari kurikulum seni atau rutin dipentaskan dalam acara-acara kenegaraan, kita secara tidak langsung menjaga marwah Kerajaan Palembang tetap hidup. Pelestarian ini bukan hanya soal menjaga gerakan tangan atau langkah kaki, melainkan menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Keberadaan tarian ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia, khususnya Palembang, memiliki akar peradaban yang sangat kuat dan disegani oleh dunia internasional.

Posted by admin in Berita

Evolusi Pempek 2026: Gastronomi Molekuler di Palembang

Dunia kuliner Nusantara terus mengalami transformasi yang luar biasa, terutama ketika menyentuh ranah tradisi yang sudah mengakar kuat. Memasuki tahun 2026, fenomena pempek di Palembang tidak lagi sekadar tentang cuka pedas dan ikan giling yang digoreng secara konvensional. Inovasi besar sedang terjadi di ibu kota Sumatera Selatan ini, di mana para koki lokal mulai mengadopsi teknik memasak tingkat tinggi untuk menghadirkan pengalaman makan yang futuristik namun tetap menghormati cita rasa asli leluhur.

Kehadiran konsep gastronomi molekuler pada hidangan pempek telah mengubah persepsi wisatawan mancanegara maupun domestik. Kini, Anda bisa menemukan sajian di mana kuah cuko tidak lagi disajikan dalam botol plastik, melainkan diubah menjadi butiran kaviar yang meledak di mulut atau berbentuk busa (foam) ringan yang aromatik. Transformasi ini bertujuan untuk menaikkan kelas kuliner daerah ke level fine dining global tanpa menghilangkan esensi dari penggunaan ikan belida atau tenggiri yang menjadi bahan utamanya.

Selain dari segi tekstur, penyajian pempek modern ini juga melibatkan aspek visual yang sangat memukau. Beberapa restoran terkemuka di tepian Sungai Musi kini menyajikan varian “asap” yang berasal dari penggunaan nitrogen cair untuk memberikan efek dramatis saat hidangan diletakkan di meja pelanggan. Teknik ini bukan sekadar untuk gaya hidup semata, melainkan juga berfungsi menjaga suhu optimal agar kesegaran bahan laut tetap terjaga hingga suapan terakhir. Hal ini membuktikan bahwa adaptasi teknologi mampu berjalan beriringan dengan warisan budaya.

Meskipun teknologi modern telah masuk ke dapur-dapur di Palembang, para pengrajin kuliner tetap memastikan bahwa bahan baku pempek diambil dari tangkapan nelayan lokal. Sinergi antara modernitas dan kearifan lokal ini menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang sehat. Wisatawan kini tidak hanya datang untuk sekadar kenyang, tetapi untuk mengapresiasi sebuah karya seni yang dapat dimakan. Edukasi mengenai proses pembuatan yang presisi ini menjadi daya tarik tambahan bagi para pecinta kuliner yang ingin mendalami filosofi di balik setiap bentuk lonjong atau bulat dari adonan tersebut.

Posted by admin in Berita

Sungai Musi Menjadi Pusat Ekonomi Kreatif Sumatera Selatan Melalui Penataan Kawasan Pinggiran Yang Modern

Sungai Musi telah lama menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Palembang, namun potensinya sebagai penggerak ekonomi masa depan memerlukan sentuhan inovasi yang lebih berani dan terpadu. Pemerintah daerah kini tengah serius melakukan penataan kawasan pinggiran sungai guna mengubah citra kumuh menjadi destinasi kelas dunia yang mampu menarik minat wisatawan serta investor. Dalam paragraf pembuka ini, penting untuk ditekankan bahwa revitalisasi fisik harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan komunitas lokal agar dampak ekonominya dapat dirasakan langsung oleh warga sekitar. Transformasi ini bertujuan menjadikan ikon Sumatera Selatan tersebut sebagai pusat gravitasi baru bagi industri kreatif yang dinamis dan berkelanjutan.

Langkah awal dari penataan kawasan ini mencakup perbaikan infrastruktur pedestrian dan pembangunan ruang terbuka publik yang dilengkapi dengan fasilitas teknologi digital. Dengan adanya jalur pejalan kaki yang nyaman dan estetis, masyarakat dapat menikmati keindahan sungai sambil berinteraksi dalam berbagai kegiatan seni dan budaya. Ruang-ruang ini nantinya akan menjadi wadah bagi para pelaku ekonomi kreatif, mulai dari pengrajin wastra tradisional hingga pengembang teknologi rintisan, untuk memamerkan karya mereka. Integrasi antara nilai sejarah sungai dan desain arsitektur modern akan menciptakan atmosfer unik yang memperkuat identitas kota sebagai metropolitan air yang maju.

Selain aspek estetika, penataan kawasan pinggiran Musi juga menyentuh standarisasi fasilitas bagi pelaku UMKM kuliner yang selama ini menjadi daya tarik utama. Penertiban pedagang ke dalam sentra kuliner yang higienis namun tetap mempertahankan kearifan lokal akan meningkatkan nilai jual produk unggulan seperti pempek dan kerupuk kemplang. Dukungan pencahayaan artistik pada malam hari di sepanjang bantaran sungai diharapkan mampu menghidupkan aktivitas ekonomi selama 24 jam, menciptakan lapangan kerja baru di sektor jasa dan hiburan. Sinergi antara keindahan alam dan kenyamanan fasilitas publik menjadi kunci utama dalam meningkatkan durasi kunjungan wisatawan di Sumatera Selatan.

Tantangan terbesar dalam mewujudkan visi ini adalah konsistensi dalam menjaga kebersihan lingkungan sungai pasca-revitalisasi. Penataan kawasan yang sukses memerlukan sistem pengolahan limbah terpadu agar limbah rumah tangga maupun industri kreatif tidak lagi mencemari aliran sungai. Partisipasi aktif masyarakat melalui gerakan sadar wisata dan lingkungan sangat diperlukan untuk menjaga fasilitas yang telah dibangun agar tidak rusak oleh tangan-tangan jahil. Edukasi mengenai pentingnya sungai sebagai aset ekonomi jangka panjang harus terus ditanamkan kepada generasi muda agar mereka merasa memiliki dan bertanggung jawab atas kelestarian Sungai Musi sebagai warisan leluhur yang berharga.

Posted by admin in Berita

Bukan ‘Lur’ Lagi? Kenapa Gen Z Sumsel Malu Pakai Bahasa Daerah?

Fenomena pergeseran budaya di wilayah Sumatera Selatan kini tengah menjadi sorotan tajam, terutama mengenai alasan mengapa banyak Gen Z Sumsel yang mulai merasa enggan menggunakan identitas lokal mereka dalam percakapan sehari-hari. Bahasa daerah yang seharusnya menjadi kebanggaan dan ciri khas wilayah, perlahan mulai ditinggalkan oleh generasi muda yang lebih memilih gaya bicara populer demi dianggap lebih modern. Sapaan akrab seperti “Lur” yang melambangkan persaudaraan kini semakin jarang terdengar di pusat-pusat keramaian kota, tergantikan oleh istilah-istilah gaul yang dianggap lebih relevan dengan tren digital saat ini.

Penyebab utama dari munculnya rasa canggung pada Gen Z Sumsel seringkali berakar dari tekanan sosial di media sosial dan lingkungan pergaulan yang semakin global. Ada persepsi keliru yang menganggap bahwa menggunakan dialek lokal atau logat kental menunjukkan status sosial yang rendah atau kurang teredukasi. Padahal, kekayaan bahasa daerah adalah aset budaya yang sangat berharga dan menjadi pembeda yang unik di tengah keberagaman suku di Indonesia. Tanpa rasa bangga terhadap akar budaya sendiri, identitas kedaerahan terancam hilang ditelan arus modernisasi yang seragam.

Selain faktor eksternal, kurangnya penggunaan bahasa ibu di lingkungan keluarga juga mempercepat pudarnya kemampuan berbahasa daerah pada Gen Z Sumsel. Jika orang tua tidak lagi membiasakan anak-anak mereka berkomunikasi dengan bahasa asal di rumah, maka wajar jika generasi penerus kehilangan kosa kata aslinya. Dibutuhkan upaya kreatif dari para pembuat konten dan tokoh masyarakat untuk mengemas kembali bahasa daerah agar terlihat keren dan tetap relevan bagi anak muda tanpa menghilangkan esensi tradisinya yang luhur.

Kesadaran kolektif sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa kemajuan zaman tidak menghapus warisan lisan kita. Menjadi modern bukan berarti harus meninggalkan jati diri sepenuhnya. Justru di tengah dunia yang semakin tanpa batas, keunikan karakter seorang Gen Z Sumsel bisa menjadi nilai tambah yang membedakan mereka dengan individu lainnya. Mari kita buktikan bahwa mencintai bahasa daerah adalah bentuk nyata dari menjaga martabat bangsa dan melestarikan sejarah yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.

Posted by admin in Berita

Sensasi Ngabuburit di Atas Kapal: Wajah Baru Sungai Musi!

Menjelang waktu berbuka puasa, kawasan perairan di Palembang kini menawarkan pengalaman yang berbeda melalui Sensasi Ngabuburit yang unik. Jika biasanya masyarakat menghabiskan waktu di daratan, kini tren beralih ke atas air untuk menikmati hembusan angin sore dan pemandangan Jembatan Ampera yang ikonik. Transformasi ini memberikan warna baru bagi pariwisata lokal, di mana sungai bukan lagi sekadar jalur transportasi, melainkan destinasi religi dan rekreasi yang menyegarkan selama bulan suci Ramadhan.

Pemerintah kota dan pelaku usaha lokal tampak serius membenahi fasilitas di sepanjang aliran sungai. Kapal-kapal wisata kini tampil lebih bersih dan estetis, menciptakan Sensasi Ngabuburit yang nyaman bagi keluarga maupun anak muda. Wisatawan dapat menyewa perahu ketek atau kapal pesiar mini untuk menyusuri tepian sungai sambil menunggu azan magrib berkumandang. Keindahan matahari terbenam yang memantul di permukaan air memberikan ketenangan tersendiri bagi mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Daya tarik utama dari kegiatan ini adalah kesempatan untuk melihat sisi lain kota Palembang dari perspektif yang berbeda. Selain pemandangan fisik, kuliner khas yang dijajakan di atas dermaga atau bahkan di atas kapal menambah keistimewaan Sensasi Ngabuburit kali ini. Banyak warga merasa bahwa dengan berada di atas kapal, rasa haus dan lapar menjadi tidak terlalu terasa karena teralihkan oleh pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini membuktikan bahwa potensi sungai di Indonesia sangat besar jika dikelola dengan pendekatan yang kreatif dan relevan bagi masyarakat modern.

Tidak hanya dari sisi estetika, keamanan juga menjadi prioritas utama bagi para pengelola kapal wisata. Setiap penumpang diwajibkan mengikuti protokol keselamatan, sehingga momen Sensasi Ngabuburit tetap aman dan menyenangkan. Peningkatan jumlah kunjungan ini secara otomatis menggerakkan roda ekonomi para pengemudi kapal yang biasanya sepi di luar musim liburan. Interaksi sosial yang hangat antar penumpang di atas kapal juga menciptakan suasana kebersamaan yang kental dengan nilai-nilai Ramadhan.

Sebagai penutup, wajah baru Sungai Musi ini diharapkan dapat terus terjaga kelestariannya. Menikmati Sensasi Ngabuburit di atas kapal adalah cara terbaik untuk mengapresiasi kekayaan alam dan budaya lokal secara bersamaan. Jika Anda sedang berada di Sumatera Selatan, pastikan untuk tidak melewatkan momen syahdu ini demi mendapatkan pengalaman berbuka puasa yang tidak akan terlupakan di tengah keindahan sungai yang melegenda.

Posted by admin in Berita

Motivasi “Local Pride”: Membangkitkan Marwah “Wong Kito” di Kancah Bisnis Nasional

Dalam beberapa tahun terakhir, semangat untuk memajukan produk dan identitas daerah telah menjadi gelombang baru yang luar biasa di Indonesia. Fenomena Local Pride bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan sebuah gerakan akar rumput yang bertujuan untuk membuktikan bahwa kualitas produk lokal mampu bersaing dengan merek global. Di wilayah Sumatra Selatan, semangat ini tercermin dalam upaya kolektif untuk mengangkat kembali harga diri dan eksistensi pengusaha daerah agar tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Membangkitkan marwah masyarakat yang sering dijuluki sebagai “Wong Kito” di panggung ekonomi yang lebih luas memerlukan dedikasi dan strategi yang matang.

Langkah awal untuk memperkuat Local Pride di sektor bisnis adalah dengan mengubah pola pikir para pelaku usaha kecil dan menengah. Banyak yang mulanya merasa minder atau ragu bahwa produk mereka bisa menembus pasar Jakarta atau kota besar lainnya. Padahal, kekayaan budaya dan kreativitas masyarakat lokal adalah aset yang tidak dimiliki oleh perusahaan multinasional yang cenderung seragam. Dengan menonjolkan keunikan autentik, setiap produk dari daerah memiliki narasi yang kuat untuk menarik minat konsumen yang kini semakin kritis dan lebih menghargai cerita di balik sebuah merek.

Namun, untuk mencapai skala nasional, semangat saja tidaklah cukup. Pelaku usaha harus mulai memperhatikan standarisasi kualitas dan keberlanjutan produksi. Gerakan Local Pride harus didukung dengan manajemen profesional, mulai dari pengemasan yang menarik hingga strategi pemasaran digital yang tepat sasaran. Ketika seorang pengusaha dari Palembang atau daerah sekitarnya berhasil menembus pasar nasional, hal itu akan memicu efek domino yang positif bagi lingkungan sekitarnya, menciptakan lapangan kerja baru, dan tentu saja meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal secara signifikan.

Selain itu, kolaborasi antar sesama pengusaha daerah menjadi kunci utama dalam menjaga ekosistem bisnis yang sehat. Alih-alih saling menjatuhkan, para pegiat Local Pride justru harus saling mendukung dengan cara berbagi informasi pasar atau bahkan melakukan promosi silang. Sinergi ini akan memperkuat posisi tawar produk daerah di hadapan investor maupun distributor besar. Kebanggaan terhadap identitas “Wong Kito” harus menjadi bahan bakar untuk terus berinovasi tanpa melupakan akar budaya yang menjadi fondasi utama dalam setiap karya yang dihasilkan.

Posted by admin in Berita

Strategi Investasi Hijau: Mengapa Sumatera Selatan Jadi Incaran Investor Global 2026?

Memasuki tahun 2026, arah pembangunan ekonomi dunia telah bergeser secara signifikan menuju keberlanjutan. Dalam konteks nasional, Sumatera Selatan muncul sebagai salah satu titik pusat perhatian karena keberhasilannya dalam mengimplementasikan konsep strategi investasi hijau yang ramah lingkungan. Provinsi ini tidak lagi hanya mengandalkan komoditas energi konvensional, tetapi telah bertransformasi menjadi magnet bagi para pelaku pasar internasional yang mencari proyek-proyek berbasis karbon rendah dan pemanfaatan sumber daya alam yang bertanggung jawab.

Daya tarik utama yang membuat Sumatera Selatan begitu diminati adalah kekayaan ekosistemnya yang luas dan terkelola dengan baik melalui strategi investasi hijau yang konsisten. Pemerintah daerah telah menunjukkan komitmen kuat dalam menyediakan regulasi yang mendukung ekonomi karbon, yang pada gilirannya memberikan kepastian hukum bagi investor asing. Hal ini sangat penting mengingat standar ESG (Environmental, Social, and Governance) kini menjadi indikator utama bagi perusahaan global sebelum menanamkan modal mereka di sebuah wilayah strategis.

Selain faktor regulasi, ketersediaan infrastruktur pendukung juga menjadi alasan mengapa strategi investasi hijau di wilayah ini tumbuh begitu pesat. Proyek-proyek energi terbarukan, mulai dari tenaga surya hingga biomassa, mulai terintegrasi dengan kawasan industri yang ada. Integrasi ini menciptakan sebuah ekosistem yang efisien di mana biaya produksi dapat ditekan melalui penggunaan energi bersih. Inilah yang dicari oleh pasar global: sebuah keseimbangan antara profitabilitas keuangan dan tanggung jawab terhadap kelestarian bumi di masa depan.

Pertumbuhan ekonomi berbasis lingkungan ini juga membawa dampak positif bagi masyarakat lokal melalui penciptaan lapangan kerja baru yang lebih berkualitas. Penerapan strategi investasi hijau memaksa adanya peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang teknologi berkelanjutan. Dengan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, provinsi ini berhasil membuktikan bahwa perlindungan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang, melainkan dua sisi mata uang yang harus berjalan beriringan.

Seiring dengan meningkatnya perdagangan karbon dunia, posisi Sumatera Selatan semakin strategis di mata dunia. Hutan dan lahan basah yang luas di wilayah ini memiliki potensi besar untuk menjadi aset dalam pasar karbon global yang sedang berkembang pesat. Para investor melihat ini sebagai peluang emas untuk terlibat dalam proyek restorasi yang menghasilkan kredit karbon bernilai tinggi.

Posted by admin in Berita

Sejarah Pasar Bedug Sumsel: Pusat Ekonomi Rakyat Sejak Kesultanan

Menelusuri jejak perdagangan tradisional di Sumatera Selatan tidak akan lengkap tanpa membahas eksistensi pasar musiman yang muncul setiap bulan suci. Fenomena Pasar Bedug telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi ekonomi masyarakat Palembang dan sekitarnya. Sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam, tradisi berkumpulnya pedagang makanan dan kebutuhan pokok menjelang waktu berbuka telah membentuk pola interaksi sosial yang unik. Hal ini membuktikan bahwa pusat ekonomi rakyat bukan sekadar tempat transaksi, melainkan simbol ketahanan budaya yang mampu melintasi berbagai zaman.

Sejarah mencatat bahwa aktivitas di sekitar masjid agung dan pemukiman pinggiran sungai menjadi cikal bakal terbentuknya keramaian ini. Istilah Pasar Bedug sendiri merujuk pada penanda waktu salat dan berbuka yang sangat sakral bagi masyarakat setempat. Dahulu, para pedagang menjajakan kudapan khas seperti pempek, celimpungan, hingga srikaya dengan cara yang sangat sederhana. Kini, meskipun zaman telah berubah menjadi serba digital, esensi dari keramaian ini tetap bertahan sebagai magnet bagi warga untuk mencari hidangan berbuka sembari mempererat silaturahmi antarwarga yang mungkin jarang bertemu di hari biasa.

Secara ekonomi, kehadiran pusat jajanan ini memberikan dampak yang sangat signifikan bagi pelaku UMKM. Banyak keluarga yang menggantungkan pendapatan tambahan mereka dari berjualan di Pasar Bedug selama satu bulan penuh. Perputaran uang yang terjadi di sini sangat masif dan organik, karena melibatkan langsung produsen rumahan dengan konsumen akhir tanpa perantara yang rumit. Pemerintah daerah pun terus berupaya menata lokasi-lokasi ini agar lebih representatif bagi wisatawan tanpa menghilangkan kesan tradisional yang telah melekat selama ratusan tahun sejak era kesultanan dahulu.

Kekuatan utama dari pasar ini terletak pada varietas kulinernya yang tidak ditemukan di hari-hari biasa. Menjelajahi setiap sudut Pasar Bedug adalah sebuah perjalanan rasa yang membawa kita kembali ke akar budaya Melayu dan Islam yang kuat. Aroma masakan rempah yang menyeruak di udara sore hari menciptakan atmosfer yang hangat dan penuh kemenangan. Bagi masyarakat Sumsel, pergi ke pasar ini bukan hanya soal belanja makanan, tetapi merupakan sebuah ritual tahunan yang membangkitkan memori kolektif tentang kejayaan masa lalu dan harapan di masa depan.

Posted by admin in Berita